Mengingat 1 tahun yang lalu,mungkin, aku tak mengingatnya tepat, ketika aku
merasa awan tak secerah biasanya, matahari bersembunyi, ntah malu atau dia
mendukung suasana hatiku saat itu, bungapun serasa layu tak berbau, sakit,
sakit yang teramat sangat, teramat sangat untuk saat itu, di kamar mendengar
suaramu yang hampir setiap hari selalu menghaluskan yang kasar, mendatangkan
pelangi sehabis hujan badai, melindungi setiap ada terjangan, yah seperti
itulah gambaran hatiku, itu hanya sepenggal dari jiwa ragamu, itu hanya
suaramu, yang bahkan tak sering dari suaramu melantunkan gemuruh yang menderu,
yang siap kapan saja mampu merubuhkan pertahananku saat itu, tapi ntahlah, aku
menyukai suaramu, yang terkadang berperan sebagai penyair indah yang selalu
berpuitis dalam tutur katanya, kadang justru bak air tsunami yang pelan namun
,melahap habis apa yang telah berdiri kokoh
AKU MENCINTAIMU
Yah itu terlalu tabu atau apalah, tapi belajar
dari setiap orang yang menggembor gemborkan hatinya, dan mereka menyebutkan itu
CINTA,
aku juga mengungkapkan hal itu terhadapmu sayang. yah mendeskripsikan kata
cinta itu sendiri, semua orang pasti tau, yang menurutku adalah, C.I.N.T.A, haha.
Tolong garis bawahi, tapi yang kualami bukan CINTA pada umumnya, aku mencintai yang
justru sangat menyakitkanku saat itu, berharap cinta selalu datang seperti
secerah matahari, yang menyinari segala sesuatu yang dilewatinya, aku juga
ingin seperti itu sayang, bak siluet dibawah indahnya sang pencerah, walau
sering terjadi mendung, bahkan hujan badai yang tak kunjung reda, berpikir seperti
itu aku trauma.
Disini,di bagian sensitivku, disini, dihatiku,
mengingat torehan luka yang kau goreskan, terlalu banyak, sungguh bila orang
mampu melihat hatiku, yah, hatiku cacat, penuh dengan goresan luka menganga
segar, yang disusul goresan lain yang serupa, taukah sayang, disini aku masih
mampu menarik kedua ujung bibirku, agar kau ikut menarik ujung bibirmu karena
hanya dengan seperti itulah yang mampu mengeringkan sayatan tajam di hatiku.
“aku mau main sama F********, katamu waktu itu,
dilain waktu kau mengganti nama wanita itu Y*****, T***, dst. Jenuh, aku jenuh,
tapi apa daya bibir enggan bicara, hanya hati yang menjerit kesakitan. SAKIIIIIT,
PERIIIIIH, mungkin seperti itulah bunyinya, dengarkah ?
Ibarat pelajaran di kelas, aku hanya mampu
bertanya tapi tetap tak mengerti, justru pertanyaanku tak terjawab atau memang
tak ada jawabannnya. Menjalani yang ku anggap benar memang hasilnya tidak
salah, walau pertanyaan2 itu tak terjawab sesuai kemauanku, AKU TIDAK PUAS, kadang AKU TIDAK TERIMA !
Yah tak apa, karena ibarat tanaman, mungkin saat
itu daunku habis termakan ulat, bunga yang indah akhirnya layu, enggan menunjukan
wangi yang semerbak, tapi aku terus memupuk, menyiram, merawatnya, dan aku
percaya, penantianku akan berujung, lukaku akan mengering, pipiku akan sepi
didatangi sang air mata, telingaku akan mendengar lantunan indah setiap
harinya, bahkan akan ada bunga yang lain tumbuh mengganti bunga yang layu itu,
yang pasti dalam satu induk batang yang sama, karena SABAR akan ada
hasilnya, akupun bersabar :)
Kupeluk rapuhmu dengan karyaku
Kupeluk celahmu dengan candaku
Kunanti merdu lagu
Kutatih belajar terbang di awan
Kubingkai semua impian khayalku
Iringi canda tawa
Kubasuh marahmu dengan lirihku
Kubasuh semua bara di ragumu
Kunanti harum peluk
Walau tertatih… biar teratih
Walau tercabik… biar tercabik
Khilafkan putih… khilafkah putih
Hanya kau mimpiku… hanya kau mimpiku
Dan bila semua kan berakhir… 2x
Hanya kau mimpiku
Kubasuh semua bara di ragumu
Kunanti harum peluk
Walau tertatih… biar teratih
Walau tercabik… biar tercabik
Khilafkan putih… khilafkah putih
Hanya kau mimpiku… hanya kau mimpiku
Dan bila semua kan berakhir… 2x
Hanya kau mimpiku

No comments:
Post a Comment