Thursday, 13 October 2011

BUKAN EDELWEISKU


Harapanku sirna, bungaku mati tak berdaya, dia enggan tumbuh dihatiku, memberikan wangi taktala aku menghirupnya, tapi dimana aku ? di mimpikah ? TIDAK!! Aku di dunia non fiktif ku, INI NYATA, aku sedih memandangi tanamanku, aku pilu, apa aku yang terlalu memaksanya untuk tumbuh walau sebenarnya ia tak mampu, maafkan aku. Semenjak saat itu aku tak ingin menyentuhnya, apalagi merawatnya, aku hanya ingin mengenangnya bahwa ia pernah tumbuh subur dan berbunga indah dihatiku, walau banyak hama atau justru sering layu, tapi tetap dia pernah dihatiku..



***


            Tidak , kau mantan, dan akuilah saja kau sudah jadi mantan, maafkan bibirku yang memutuskan semua dengan sepihak, bunga itu tak mau lagi tumbuh. Tidak, aku tidak mati rasa, tapi hanya menghentikan apa yang sudah kuperjuangkan, aku tidak menyerah, tapi kita sudah menemukan ujungnya. Disinilah kita di persimpangan jalan, yang harus kita ambil haruslah jalan yang berbeda, kita tak sejalan, aku tak bisa men’deferensialkan’ hatiku, kamupun juga tak mampu meng’integralkan’ cintamu untukku. Lelah kau tanya ? tidak. Aku tidak lelah, tapi apa kita akan selalu memupuk tanamanan yang enggan tumbuh di hati kita, gersang, akan gersang bila kita mengambil jalan dan arah yang sama. Jangan kau paksa, cinta sudah enggan duduk di hati kita, aku tau cintamu terkikis, semua berjalan karena kita yang memaksakan, dan ini titik dari panah yang kita hunuskan 27 Februari 2010 yang lalu dan berhenti di Januari 2011, aku tak ingat tepat . Menyakitkan memang, tapi sepahit apapun obat yang kutelan, ini langkah yang terbaik, setidaknya sampai lukaku mengering. Kau membiasakanku dengan hal2 yang tidak biasa, sudah biasakah ?


***

            Ini bukan kehendakku, ini hama yang kau taruh di tanaman kita, awalnya aku terbiasa, namun, hama tetap hama, dia mematikan tanaman kita. Kau bilang ini edelweis (bunga abadi) ? tidak sayang, akupun berharap itu, dan awalnya memang edelweis, tapi di Januari ini aku mengetahui, itu BUKAN EDELWISKU :’)



***

            Tenanglah, Tuhan tetap di hati kita, dia menjaga kita, dan aku percaya memang jodoh tak akan kemana, dan disinilah Tuhan berperan, dia yang menentukan. Jangan khawatir, siapa sangka pada akhirnya Tuhan mengijinkan kita untuk menanam tanaman baru, yang berbunga indah, dan akan muncul bakal buah, dan mungkin, justru kau yang akan menjadi edelweisku, KITA LIHAT SAJA NANTI :)


Januari 2011, ditulis ketika air mata mengering 23.00

No comments:

Post a Comment