Friday, 16 December 2011

LELAKIKU


Badai, kau tau badai ? ya ia mampu merobohkan segala pertahanan, yang dilewati serasa pontang panting, memporakporandakan apa yang ia lalui. Kau tau ayah ? aku serasa rubuh dan tak mampu bangkit, aku jatuh terpuruk, kenapa harus seperti ini kehendakmu, kenapa mampu melenyapkan semua kebahagiaanku, aku tau engkaulah yang menghidupiku, merawatku selama hampir 18 tahun ini, tapi aku masih belum mengerti, belum memahami kenapa ayah melakukan tindakan yang sangat aku belum pahami.

Ayah, maaf, tapi sekarang ia serasa kakiku walau kau tak pernah terganti olehku, tapi dia lelaki kedua yang aku cintai saat ini. Salahkah aku memilihnya ? aku tau dia tak seperti yang kamu harapkan, tapi dia jauh lebih baik dari lelaki yang sekarang kamu pandang selalu baik, kau salah ayah, dia tidak jauh lebih baik, aku lebih tau.

Sekarang, anakmu ini belum hendak menginjakkan kaki ke jenjang hubungan yang lebih lanjut, janganlah kau bebankan semua ini kepadaku, aku sudah menurutimu ayah, menjadi anak yang setidaknya mempunyai prestasi di sekolah, mungkin belum mampu terlalu membahagiakanmu, tapi yang bisa aku lakukan baru itu, kelak, anak bungsumu ini teramat sangat ingin membahagiakanmu, muluk2 memang, aku ingin memberangkatkanmu bersama ibu ke tanah suci, membelikanmu kendaraan yang bisa kita naiki sekeluarga, menjadi anak yang mempunyai prestise yang luar biasa, seandainya aku bisa, akan kulakukan bagaimanapun caranya hanya untuk melihat kau menangis terharu atas perjuanganmu membesarkanku, membuatmu bangga karena kau telah berhasil mendidik anakmu ini menjadi “orang”. 

Ayah, tak perlu kau tanyakan serentetan pertanyaan hanya untuk mengetahui apakah aku mencintaimu,  jelas teramat sangat, gadis bungsumu ini sangat mencintaimu, begitu menyayangimu, tak mampu melihatmu kecewa karena prestasiku yang menurun, tingkahku yang terkadang kadang tidak aturan atau kadang membantahmu, maafkan anakmu ini yang tidak tau diri, tapi ayah disini aku berharap, ijinkanlah aku menajalani masaku bersamanya, menikmati masa remaja yang sesungguhnya, menikmati riuhnya sabtu malam bersamanya, hanya dia ayah, tenanglah, kau tetap disini, dihati ini, kau lelaki yang paling sesungguhnhya lelaki, tak ada lagi seorang lelaki yang akan kupanggil ayah, hanya kamu ayah.

Dan dia, ya dia, lelaki keduaku, lelaki yang sangat aku sayangi, yang menyayangiku seperti kau menyayangiku ayah, ku harap tak kan ada tindakan yang kau lakukan lagi terhadapku dengan cara mengambil kebahagiaanku, cukup ayah, biarkan aku mencari, biarkan aku menikmati ini, dengan tidak melepasku atau mengekangku  :)



No comments:

Post a Comment