Badai, kau tau badai ? ya ia mampu merobohkan
segala pertahanan, yang dilewati serasa pontang panting, memporakporandakan apa
yang ia lalui. Kau tau ayah ? aku serasa rubuh dan tak mampu bangkit, aku jatuh
terpuruk, kenapa harus seperti ini kehendakmu, kenapa mampu melenyapkan semua
kebahagiaanku, aku tau engkaulah yang menghidupiku, merawatku selama hampir 18
tahun ini, tapi aku masih belum mengerti, belum memahami kenapa ayah melakukan
tindakan yang sangat aku belum pahami.
Ayah, maaf, tapi sekarang ia serasa kakiku walau
kau tak pernah terganti olehku, tapi dia lelaki kedua yang aku cintai saat ini.
Salahkah aku memilihnya ? aku tau dia tak seperti yang kamu harapkan, tapi dia
jauh lebih baik dari lelaki yang sekarang kamu pandang selalu baik, kau salah
ayah, dia tidak jauh lebih baik, aku lebih tau.
Sekarang, anakmu ini belum
hendak menginjakkan kaki ke jenjang hubungan yang lebih lanjut, janganlah kau
bebankan semua ini kepadaku, aku sudah menurutimu ayah, menjadi anak yang
setidaknya mempunyai prestasi di sekolah, mungkin belum mampu terlalu
membahagiakanmu, tapi yang bisa aku lakukan baru itu, kelak, anak bungsumu ini
teramat sangat ingin membahagiakanmu, muluk2 memang, aku ingin
memberangkatkanmu bersama ibu ke tanah suci, membelikanmu kendaraan yang bisa
kita naiki sekeluarga, menjadi anak yang mempunyai prestise yang luar biasa,
seandainya aku bisa, akan kulakukan bagaimanapun caranya hanya untuk melihat
kau menangis terharu atas perjuanganmu membesarkanku, membuatmu bangga karena
kau telah berhasil mendidik anakmu ini menjadi “orang”.
Ayah, tak perlu kau tanyakan serentetan pertanyaan
hanya untuk mengetahui apakah aku mencintaimu,
jelas teramat sangat, gadis bungsumu ini sangat mencintaimu, begitu
menyayangimu, tak mampu melihatmu kecewa karena prestasiku yang menurun,
tingkahku yang terkadang kadang tidak aturan atau kadang membantahmu, maafkan
anakmu ini yang tidak tau diri, tapi ayah disini aku berharap, ijinkanlah aku
menajalani masaku bersamanya, menikmati masa remaja yang sesungguhnya, menikmati
riuhnya sabtu malam bersamanya, hanya dia ayah, tenanglah, kau tetap disini,
dihati ini, kau lelaki yang paling sesungguhnhya lelaki, tak ada lagi seorang
lelaki yang akan kupanggil ayah, hanya kamu ayah.
Dan dia, ya dia, lelaki
keduaku, lelaki yang sangat aku sayangi, yang menyayangiku seperti kau
menyayangiku ayah, ku harap tak kan ada tindakan yang kau lakukan lagi
terhadapku dengan cara mengambil kebahagiaanku, cukup ayah, biarkan aku
mencari, biarkan aku menikmati ini, dengan tidak melepasku atau mengekangku :)

No comments:
Post a Comment